There was an error in this gadget

Monday, December 30, 2013

Komik Golongan Darah

Baca ini udah dari sebelum koas, tapi keingat lagi kemarin pas ada yang nanya ke saya golongan darah apa? Terus pas saya tanya, lagi baca komik golongan darah yah? Di jawab iya, akhirnya iseng baca lagi mumpung lagi libur. Dan alhasil ngakak, masukin blog deh. Bantu penyebarannya haha.
Tapi yah percaya gak percaya sih, kayak halnya zodiak. Lagian karakter manusia itu rumit, banyak hal yang bisa mempengaruhinya misalnya keluarga, lingkungan, beban hidup tsaaah. Gak bisa lah semudah di bagi A-B-O-AB, tapi... menurut saya sih. Sebagian besar mirip, beberapa ada juga yang beda.
Zodiak juga gitu, virgo banget tapi yah gitu deh gak perfeksionis amat kok haha. Btw saya golongan darah A (sapa yang nanya Dhin? Idiiih biar, suka-suka gue). Jadi secara garis besar, karakter A yang penuh persiapan (menurut komik ini sih) hampir selaras dengan sifat Virgo grrr. Punya gol.darah A aja udah over think ditambah virgo.
Btw ada orang yang saya kenal, dia golongan darah B, menurut komik ini B itu lebih ke cuek, egois, malas. Hahahhahaha. Tapi di satu sisi, dia ini virgo yang katanya sih perfeksionis, virgo itu perencanaannya detail. Nah loh? Gak sinkron kan antara Gol darah dengan zodiak?
Naaah, itu lah karakter manusia itu complicated. Silahkan baca komik ini,enjoy!!














































Gimana sesuai gak?
Ini gak lengkap. Lebih lengkapnya cus aja tanyain paman google.
Babay!!
Belakangan ini egois sedang kumat-kumatnya.
Sering gak dengar jelas pembicaraan orang.
Sering gak balas sms/line/we chat orang-orang.
Malas nerima telpon gak penting.
Malas basa-basi.
Suka nunda nolongin orang, padahal lagi gak ada kerjaan juga.
Menjadi tidak peka.
Dan memaksakan kehendak di beberapa orang yang lain.
Bukan memaksa juga sih, saya gak minta, mereka yang mau.
Tapi melihat keadaan mereka yang sibuk atau sulit harusnya saya menolak.
Tapi toh tidak, saya biarkan mereka berkorban.
Saya bahkan menghubungi beberapa orang yang gak pernah saya hubungi, demi ditemani ini itu.
Di sisi lain, saya mengacuhkan orang-orang yang dengan rela hati menemani ini itu.
Yang paling parah, saya juga mengacuhkan keluarga.
Biasanya saya nelpon karena mau mendengar kabar mereka, bukan karena cuma butuh doa ataupun pamit pergi jauh.

Di sisi lain cueknya saya ini, membawa pengaruh yang baik buat perasaan saya.
Saya tidak terlalu ambil hati atas tindakan orang-orang yang mungkin biasanya akan saya pikirkan.
Yayayayayya... Saya tidak lagi over think gak penting. Ckck.
Ini harusnya bagus sih, tapi dalam beberapa hal saya merasa bukan menjadi diriku.

Pengaruh dari mana ini Tuhan?
Yang baik, biarlah menetap.
Yang jauh, pergi jauh-jauh husss.
Udah mau tahun baru gini juga, masa bukan membaik malah memburuk.
Lagi pula, saya menuliskan begini artinya saya sadar dong yah?
Tinggal tunggu malasnya pergi. Iyaaa lagi malas banget rempong mikirin perasaan orang ckck -_-

Eh btw ini benar-benar sifat buruk atau biasa aja yah? Atau termasuk manusiawi ya?

Friday, December 20, 2013

Who You Love



My girl, she ain't the one that I saw coming
And sometimes I don't know which way to go
And I tried to run before
But I'm not running anymore
Cause I've fought against it hard enough to know


My boy, he ain't the one that I saw coming
And some have said his heart's too hot to hold
And it takes a little time
But you should see him when he shines
Cause you never wanna let that feeling go

Sunday, October 13, 2013

Karena 2 + 2, tidak selamanya 4.


Entah wajahku atau sikapku bagian mana yang membuat orang-orang sekitar suka tiba-tiba curhat masalah hidupnya dengan santai, maksudku... Jadi teman curhat sahabat, wajib hukumnya. Dengerin curhat beberapa teman dekat, yah it's ok. Curhat pasien dan keluarganya yaaah udahlah yah, resiko jadi calon dokter. Dengerin curhat perawat tentang perselingkuhan? Hmmm. Dengerin curhat supir taksi ataupun supir pete-pete tentang keluarganya? Yassalam, ini sering banget.

Kali ini dengerin curhat salah seorang teman koas, yang gak dekat saat kuliah. So, agak awkward di awal curhat.

Hari itu kami punya tugas jaga siang bersama dan di tempatkan di tempat yang aman, pengertian aman bagi koas adalah pasien dalam keadaan umum baik, tidak gawat dan tidak banyak keluhan, serta kemungkinan mendapatkan tamu pasien baru sangat sedikit serta dokter jaga yang baik hati. Aman~

Di ruangan itu ada komputer yang biasa di pake perawat dan koas untuk memutar musik dengan volume minim dan bermain game. Saya yang tidak punya kemampuan bermain game menyerahkan mouse komputer kepada teman jaga saya, di terimanya dengan senang. Sementara saya pamit keluar sebentar untuk mencari sinyal. Setelah sms yang saya nanti muncul di layar hp, saya kembali ke tempat jaga. Teman saya sedang mem-follow-up, tekanan darah, nadi, pernafasan serta suhu pasien di kamar kami. Rajin amat, pikirku. Yang artinya sejam lagi, giliranku mem-follow-up.

Saya kembali menantap layar hp, membaca kembali sms darinya. Harusnya sekarang minimal saya merasa sesak, nyeri di dada atau mata memberat akibat air yang menggantung di pelupuk. Tapi itu tidak terjadi pada saya.

Akhirnya selesai urusannya dengan pasien, ia kembali bermain laptop. Sedangkan saya yang duduk di sampingnya hanya menaruh kepala di meja, mencoba tidur.

"Dhin.."
"Apa?"
"Punya pacar?"
"Hmm. Menurutmu?"
"Yang saya dengar sih jomblo"
"Yaudah demikian"
"Oh kirain udah gak"
"Kenapa emang?"
"Habis sibuk dari tadi nyari sinyal, kayak orang yang nunggu kabar dari orang penting"
"Sotoy"
"hahhahaha"

*mencoba tidur lagi*

"Kenapa jomblo?"
"Ya karena belum nemu aja yang tepat" jawaban standar tiap di tanya orang, tapi memang sesimple itu sesungguhnya.
"Banyak milih-milih pasti" komentar standar pun.
"Nggak milih. Cuma gak ada yang cocok masa dipaksa"
"Coba paksa sekali, kan gak tau endingnya"
"Taulah"
"Emang situ Tuhan?"
"Hhahahahah gak sih tapi yaaaa..."
Kubiarkan kalimat ku menggantung, yang dia tidak tahu adalah beberapa hari yang lalu saya memaksakan sesuatu dan berakhir baru saja dengan masuknya sebuah sms tadi. Ending yang persis seperti yang saya pikirkan. Kita memang bukan Tuhan, tapi jika kau mau menggunakan mata untuk melihat dan menggunakan logika untuk berpikir serta mengabaikan hati untuk sementara, seringkali sesuatu terlihat begitu jelas. Sangat jelas. 

"Tapi apa?"
"Gitu deh, malas ah" Saya sering merasa kurang nyaman mengutarakan pendapat jika belum terlalu dekat.
"Tapi jomblo enak sih Dhin"
"Kenapa emang?"
"Bisa jalan ama sapa aja tanpa beban. Bebas"
"Hahahahah. Ish cowok mah emang gitu? Situ mau jalan ama sapa lagi sih? Udah punya cewek juga"
"Pengen bebas bukan berarti pengen jalan sama cewek lain. Kadang ..... Blablababala" *sensor*

Akhirnya saya mendengar semua curhatnya. Rasanya agak aneh mendengar curhat cowok yang gak terlalu dekat, saya sering bingung ingin menggali curhatnya agar ia plong ceritain semua atau biarkan menggantung karena mungkin ia tidak ingin berbagi sepenuhnya. Grrr untungnya awkwardnya berkurang cepat, karena ternyata dia seorang story telling yang menyenangkan. Denger curhatnya kayak di dongeng. Haha *ditoyor* Isinya? Gak sopan kan yah bocorin curhat orang?

Sebenarnya curhat yang inti permasalahannya sering sekali saya dengar. Saya sering merasa masalah inti dari setiap orang sering kali sama. Perbedaan hanya terletak di tokoh utama, latar belakang tokoh, setting tempat, bumbu-bumbu cerita serta bagaimana ia menghadapi masalah yang membuatnya berbeda.

Sama ketika kita menonton drama korea, penggemar drama pasti ngerti maksud saya. Inti permasalahan gak lebih dari, si kaya jatuh cinta sama si miskin, perjodohan, benci jadi cinta, pacaran kontrak, punya pacar penyakitan, saudara yang tertukar, cinta sama sahabat sendiri, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta kandas di tengah jalan, apalagi hayo? Tinggal bumbunya aja yang beda. Begitupun sinetron kan?

Film action juga, intinya menyelamatkan dunia, prosesnya doang yang beda, tokohnya, dll. Film kompetisi dance, balapan, semua beda cuma di prosesnya.

Bahkan novelpun begitu. Yang membedakan adalah siapa penulisnya, bagaimana ia merangkai kata itu yang membuatnya berbeda.

Dikehidupan nyata, kita sering kali merasa tweet seseorang nancep sekali, karena persis apa yang kita alamin. Mungkin bukan kisahnya, tapi feelnya yang sama. Mungkin bukan inti ceritanya yang sama tapi rasa kecewanya. 

Atau seperti yang sedang saya alami, mendengar curhat teman yang feelnya sama dengan saya saat itu. Mungkin sering juga orang lain di belahan bumi lain, atau bahkan orang yang kita temui di tempat makan pun juga sedang merasa feel yang sama dengan kita saat itu tapi kita tidak pernah tau.

Saat itu saya teringat tulisan salah satu penulis favorit saya kayak gini :

No matter who we are, how we dress, where we live, setiap orang itu punya pergulatan batin dan pertanyaan ttg hidup yg mirip. We're all not that different, if we're willing to look beyond the facade. some of us made the same mistake, some of us love the same thing. 
"i'm having a hard time believing in the process"
"what process?" 
"the process that says if i do my part,everything will turn out right"
-Ika Natassa.

Dulu saya juga merasa seperti itu. Tapi akhirnya saya sadar bahwa hidup ini tidak adil. Yah, memang seperti itulah. Bukan hanya tentang percintaan, dalam dunia kerja, dunia kampus, sosial dan di masyarakatpun, seperti itu. Tidak ada keadilan.

Kamu akan mendapatkan sesuatu yang kamu perjuangkan adalah bullshit. Hidup bukan matematika, ketika 2 kamu tambahkan dengan  2 kamu akan mendapatkan 4. Di kehidupan nyata 2+2 tidak selamanya 4. Terkadang kamu mendapatkan 8, terkadang kamu mendapatkan 0.

Beberapa orang beruntung hanya memberikan 2, dan mendapatkan 8. Yah that's life dude.

Tapi kita tidak perlu merasa iri, karena kita tidak mengenalnya secara keseluruhan karena ia pasti punya sisi 0 yang tidak ia tampakkan.

Setiap orang pasti punya sisi 0 dan 10. Dan setiap orang hanya memperlihatkan sebagian sisinya itulah mengapa kita tidak perlu menjudge hidup orang lain. Terlebih lagi membandingkan dengan hidup kita sendiri. Ketika kamu mendapatkan 8, syukuri. Ada yang mati-matian ingin mendapatkan 8mu itu.

Di perjalanan pulang dari RS menuju rusun yang saya tempuh dengan berjalan kaki, saya selalu menikmati saat berpikir sendiri sepert itu, karena di RS yang hectic sangat tidak memungkinkan, begitu pun di Rusun biasanya selesai mandi saya langsung tertidur. Tidak sempat memikirkan masalah hidup.

Saya berpikir, tentang curhat sore itu. Ketika teman saya merasa memberikan 9 bahkan 10, tapi pasangannya merasa ia tetap kurang.
Lalu tentang diriku sendiri, yang telah lama berhenti berusaha, lalu seminggu yang lalu saya putuskan berusaha 99% padahal logika ku berteriak bahwa kemungkinan bertahan dan kebahagiaan yang saya dapatkan mungkin cuma 1%.

99 haha MUNGKIN dia akan tertawa. MUNGKIN baginya usahaku bukan 99, MUNGKIN ia kan memberi 20, atau MUNGKIN 10. Mengapa begitu banyak mungkin? Karena saya lebih banyak menerka-nerka tanpa tau apa yang ada dipikirannya juga yang dia rasa. Terserahlah, sekali lagi setiap orang tidak menunjukkan segala sisinya, ya kan? So, bagiku itu 99, terserah orang menilainya berapa. Dan prediksiku hampir benar, hanya meleset sedikit karena yang saya dapat bukan 1, tapi 0.

Saya tertawa kecil, ya ya ya yaaa tidak ada yang di permainkan, ini cuma hukum alam. Dan saya ikhlas.

Sunday, September 22, 2013

Semesta Lagi-lagi Menampar Saya

Saya selalu merasa jika ingin segala sesuatu berjalan sesuai yang kita harapkan maka kita harus melakukan hal-hal yang wajib kita lakukan. Bahkan harus berusaha lebih jika ingin mendapatkan yang lebih baik, mencapai titik puas.

Apalagi dunia perkoasan menuntut kami menjadi robot, harus mengikuti aturan dan kompetensi yang sudah di tetapkan. Harus bisa ini, harus bisa itu. Harus revisi referat minggu sekian, baca minggu sekian, diskusi status harus sekian, ujian minggu sekian.

Alhamdulillah selama ini saya lewati dengan baik. Walaupun saya tipikal koas santai, mmh sangat santai bahkan. Beberapa teman juga sering bertanya "Kau tidak GG (gaduh gelisah) di'?". Yah dari luar sih boleh nampak santai woles ,tapi deadline tugas tidak woles dong harus di usahakan sekali tepat. Alahamdulillah! Dan saya selalu senang jika bisa selesai di suatu bagian sesuai deadline, seperti berhasil mencentang daftar list must to do.

Dengan dunia koas yang hectic di tambah sifat saya yang tetap ingin bermain-main di sela kesibukan, saya seperti benar-benar tenggelam dalam urusan duniawi. Work hard, play harder.

Ah, saya mulai melupakan yang di atas. Saya jarang memohon maaf dan meminta bantuan. Kalaupun meminta saya meminta terlalu detail. Saya mencoba mengatur yang diatas, saya lupa bahwa rencananyalah yang terindah.

Maka disinilah saya, ditampar sama Tuhan untuk urusan koas yang benar-benar di luar kuasa saya. Kalo saya punya deadline referat dan sekelompok dengan orang-orang cuek, saya bisa berusaha mengerjakan sendiri. Jika saya mendapat penguji killer maka saya harus menambah kaleng-kaleng kopi nescafe untuk menemani belajar.
Tapi saat saya di hadapkan tidak bisa masuk bagian apa yang bisa saya lakukan?
Yah, yang saya lakukan adalah konsultasi kiri kanan untuk menghadapi masalah ini. 
Saya berusaha mencari orang-orang yang mau melepaskan bagian internanya. Lalu bertemu gubernur, membujuknya, berharap mendapat kebijakan atau kalau perlu belas kasihan kata Rina.
Jika tidak bisa mungkin saya akan ke PD1, lagi dan lagi memohon penyelesaian masalah ini.
See? Semua yang saya lakukan berpusat pada diri orang lain, saya hanya bisa mengandalkan orang lain. Apa yang bisa saya perbuat agar bisa masuk? Ini benar-benar di luar kontrol saya.

DI LUAR KONTROL SAYA.
Salah satu hal yang saya benci, sekaligus yang paling paling paling sering menampar saya. Bahwa tidak semua hal bisa saya kontrol.

Dan hal ini salah satunya.
Saya pada akhirnya di ingatkan lagi lagi dan lagi dengan masalah yang seperti ini bahwa DIA lah yang maha mengontrol. Dan saya manusia hanyalah butiran-butiran debu dari semesta beserta isi-isinya yang dia kontrol ini.

Jika Ia bisa mengotrol alam, matahari tiap paginya terbit di timur dan terbenam di barat, Dia bisa mengontrol bumi tetap pada orbitanya berputar mengelilingi matahari (bayangkan bagaimana bumi sedikit saja melenceng dari orbitanya apa yang akan terjadi), jika Ia bisa mengotrol itu semua, apalah siklus internaku itu.

Dia maha mengatur dan percayalah semua yang Ia atur adalah yang terbaik. 

Yah, sudah kewajiban seorang muslim mempercayai dan meyakini qada dan qadar.

Maka saya harus ikhlas apapun ketetapanNya nanti. Berarti itu yang terbaik. Saya tentu saja masih berharap rencanaku adalah rencanaya juga tapi sambil diiringi doa agar saya ikhlas dengan segala ketetapannya. Amin.

Yah, Tuhan merindukan saya hambanya yang selalu sok kuat tidak menangis agar bersujud dan membasahi sejadahnya.

Tulisan ini di buat saat saya menunggu keputusan Gubernur saya bisa masuk interna. Dan saya berjanji akan mempublish tulisan ini di blog jika saya berhasil melaluinya dengan baik.

Dan keputusan gubernur setelah seminggu adalah saya tetap tidak di terima karena kuota yang terlalu lebih. Awalnya saya hampir hopeless, melihat siklus yang penuh sampai 3 bulan ke depan. Mau apa saya libur 3 bulan. Tapi pada akhirnya saya menemukan jalan, jalan dari Allah memang tidak terkira, ada-ada saja. Intinya berkat bantuan beberapa teman, saya tidak akan jobless 3 bulan, melainkan hanya 3 minggu. Alhamdulillah. Saya tidak suka libur apalagi jobless, tapi saya rasa 3 bulan ke 3 minggu itu sudah sangat bersyukur. Semua pasti ada hikmahnya. Terima kasih banyak ya Allah!

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Jadi nganggur yang tinggal 2 minggu ini asiknya ngapain? ;)

Wednesday, August 21, 2013

Iseng

Iseng bikin video, biar gahul gituuu, masa gak pernah nyobain fitur insta video? Ya kaaan??
Tapi harusnya iseng itu muncul ketika gak ada kerjaan sih, bukan ketika dikejar 3 deadline referat :)

video



video

Thursday, August 15, 2013

I never understand

I tried, for a couple of futile times,
but falling in love feels hard when it’s not with you.

That phase when he started text me.
That awkwardness when I should pretend like really want to join a dinner with him because I know he was expecting,
Or that weird sensation when he put his hand on my hand.
All of them felt wrong when it weren’t your eyes that I saw.
When it wasn’t your voice that I hear,
Nor your witty words that I read.

With them, ‘falling in love’ is simply repetitions of cheap romance in those boring sinetrons my grandmother watchs.
Their lines, gestures, kindness, all expected and obsolete,
Like an ads on tv that no one care.

But with you, my darling,
Even the simplest song feels genuine and heart-moving,
The ugliest sentence sounds charming,
And the silence worth-living.

I’ve given up trying to explain everything around me.
Now it’s your turn.
Explain to me, why love is a surreal when you’re in it.

Because I, honestly, don’t understand.

Tuesday, July 30, 2013

Berdoa! Berdoalah!

Setiap kali saya berdoa yang tinggi-tinggi, sering terdengar bisikan seperti "Doa setinggi itu udah usaha belum? Udah memantaskan diri belum? Udah siap kalo doanya diterima?" dan banyak pertanyaan lainnya berisi keraguan sok minta yang baik-baik emang situ udah oke? Yah begitulah kira-kira.

Saya sadar sering berdosa terlalu tinggi, terlalu muluk-muluk, terlalu detail. Haha. Lah terus kenapa? Hanya sama Allahkan kita bisa meminta apa saja? Allah maha mendengar, bahkan untuk impian kita yang seperti negeri dongeng, iya kan? Sama siapa lagi kalo bukan sama Allah kita bersimpuh, memohon dan menangis untuk cobaan yang terasa begitu berat?

Berdoa! Berdoalah!
Apapun yang kau minta, itu adalah urusanmu denganNya. Tak perlu malu, karena ia telah mengetahui segala kekuranganmu sejak lahir. Tak perlu takut, karena ia tahu batas kemampuanmu.

Dan jika belum terkabul, janganlah lantas merasa kecewa karena sesungguhnya Ia telah mempersiapkan yang lebih baik dari yang kau pinta ;)


Tulisan ini saya tulis karena kata-kata seorang teman beberapa waktu yang lalu.
Waktu itu saya lagi sangat gugup dan hopeless. Kalo lagi kek gitu suka gak sadar udah berdoa besar-besar "Ya Allah tolong dulue Ya Allah, memang susah iya tapi mauka blablabla dll dst dsb dkk" muehehehe ^^v
Trus salah seorang teman nyeletuk santai, "Eh anu orang dapat ini aja udah syukur"
HAAAAHH? #makjleb

Mungkin menurut dia, permintaanku terlalu tinggi. Tapi toh buktinya tidak untukNya. Dia mengabulkannya, terima kasih Ya Allah.

Yakinlah tidak ada yang sia-sia untuk setiap doa yang terucap padaNya...


;D

Friday, July 26, 2013

Date A Girl Who Writes

 Date a girl who writes because she will be able to recall in detail the dialog between you two, and while it gets you in trouble, it’s endearing and sweet at the same time that she remembers. This also forces you to choose your words carefully and you will become an expert in diction.
Date a girl who writes because she understands the complexities of characters, and knows you are more than your successes, failures, winnings, or losses. She loves all the layers of you, all the deep parts and even the shallow. When you are acting like the villain, she will see the goodness in you. When you are the hero, she’ll still secretly admire your flaws. All the depths of you become her big adventure.

Date a girl who writes because she will give you the most beautiful settings you’ve ever seen. She writes about the paradises she imagines, the paradises she has been to, and shares them with you.

Date a girl who writes because sometimes a little silence is welcome.

Date a girl who writes because the post-it on your refrigerator reminding you to buy milk will be original and full of adorable metaphors. And because she is so creative, she’ll put the post-it in your shoe rather than on your fridge.

In the fairy tale that is your life together, she will always make you prince charming, and happily ever after is a guarantee.

Date a girl who writes because when the poetry dies, she will make sure her prose keeps you alive.

Date a girl who writes because she understands the value of word choice, and will mean everything she says to you.

Date a girl who writes because she will ask you interesting things like “What does your name mean?” so that she may use it in a book someday. Not to mention you get to have a better understanding of yourself when you Google your own name.

She’s always looking for the page-turner, which becomes quite exciting for you.

The storyline will never have to end. She will write all the sequels that keep your love breathing. And just so that you remember all the things you love about her, she’ll make sure to include prequels too.

You’ll never have to worry about dementia, amnesia, or Alzheimer’s in your later life. She has already written out your story so that you may remember each other forever.
Buying gifts for her is oh-so-simple because she knows the incredible worth of a pen and paper.
She’ll write you emails because the laptop is her friend, but prefers to show you how she cares by painstakingly writing you pages upon pages of letters when you two are separated.

Date a girl who writes because she can take criticism and turn it into wit, disappointment into accomplishment, and sadness into laughter with the wave of her pen.

Sex is like a dirty, raunchy romantic novel you don’t dare read in public.

She will spend her life coming up with a thousand different ways to tell you how incredible you are as she is not fond of repetition. But the words she will wear out is “I love you,” because even she knows there is no better substitute for them in the history of writing.

Date a girl who writes because you will be her muse, her inspiration. Without you, she will have writer’s block. Or write the greatest tragedy since Cleopatra and Mark Antony. Either way, you are the man she will always write.

Everyday she fascinates you with a new genre. Today she is Romance, tomorrow Philosophy.
Date a girl who writes because when the cold winter of life traps you in old age, there will be somebody there to describe for you the summers in Paris, heat in Arabian nights, and tropical forests in South America so that you feel the warmth of adventure as if you were there. And so, in the twilight of your life, you will feel the touch of youth.

And finally, you must date a girl who writes because it is she who will allow you to live forever. With just her pen, she will make sure that you never grow old nor die nor fade, remembered for generations to come. A character in one of her stories, you will be given the gift of immortality.


Reblog from somewhere. Bertebaran di blog orang-orang, daaan sukaaa!

Date A Girl Who Reads

Pasti udah banyak yang baca Date A Girl Who Reads by Rosemarie Urquico ini.
Mmmh saya lebih suka Date A Girl Who Writes sih entah kenapa, padahal bukan penulis. Haha.


Date A Girl Who Reads

Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.
Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag.She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.
She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.
Buy her another cup of coffee.
Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent.  Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.
It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas and for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry, in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.
She has to give it a shot somehow.
Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.
Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who understand that all things will come to end. That you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.
Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilightseries.
If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.
You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.
You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.
Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.
Or better yet, date a girl who writes.

Friday, July 12, 2013

Just a random thought before sleep ;p

Uhuk..
Siapin lagunya aja dulu. Yang lain nyusul. Ok?
OKEE QAQAA
Uhuk
Uhuk
Ehem

 









Wednesday, July 10, 2013

The One


"Good luck trying to find someone who cares like i did, who understands you like i do, who is forgiving like i am. And when you realize there's no one out there like me, i won't be there where you left me." --Drake

Some good friends of mine have gone through such a hard time lately. Being the one who's listening to their stories mostly all of the time is making me know how they feel. One day, when I watched one of my favorite tv shows, how i met your mother, there was a scene where Marshall talked to Ted like this,

"Being in couple is hard. And committing, making sacrifices, it's hard. But if it's the right person, it's easy. Looking at that girl, and knowing she's all you really want out of life, that should be the easiest thing in the world. If it's not like that, then she's not the one."

Then suddenly this pops out from my mind; If you already find a person who is constantly on your mind, the one that makes you feel special, the one that makes your day, the one you can be complete around, then why bother looking for more? I mean, no one's perfect. Your partner isn't perfect, you neither. The only thing that you can do is loving someone imperfect perfectly. I know it is hard to commit to one person, but if it's the right person then it will be worth it. Because, you may not find that kind of person twice in your life.
Please, please fight for the one.



Reblog from Nadira Prisasi.





When I read this post, all I think just you.

Wednesday, June 12, 2013

nihil

Setiap saya memulai pembicaraan itu, selalu saja nihil hasilnya.
Beberapa kali memulai dan beberapakalipun kecewa.
menahan rindu, menahan sesak di dada.
tetesan air matapun mengalir.
aku sedang menunggu.
tapi kapan waktu itu datang?
kapan dia mengerti?
Apakah saat itu datang aku sudah kehilangan segalanya?

Sunday, June 09, 2013

Kemarin adalah puncak segala pertahanan emosi dan rasa lelah. Kalo kata Ira "berhenti ko sok tegar". Dan yap kemarin saya berhenti, bukan karena ingin tapi semuanya mengalir begitu saja. Saya capek,saya bingung, saya merasa ditinggalkan dan sendiri. Dan yang saya butuhkan kemarin adalah kamar untuk menenangkan diri, tapi yang ada malah kamar koas dikelilingi teman-teman baru yang bahkan dengan tega meminta saya pindah di kamar koas lain yang bau dan kotor. Yasudahlah.. memang itu hak dan fasilitas mereka.

Alhasil? Saya mewek sejadi-jadinya, akhirnya mewek lagi!!
Berusaha menyembunyikan tangisan di depan teman-teman yang menjenguk, tapi gagal. Arrgght, malu sekali. For the first time nangis depan mereka. Yah, siang itu di saat saya merasa sangat hopeless, Tuhan dengan baiknya mengirimkan mereka. Apa yah? Saya tidak bisa berkata apa-apa selain terima kasih.

"Dhinii kalo ada masalah tugasmu yang begini-begini, tanya-tanyaki. Nda adaji salahnya bertanya, kalo bisa kita bantu, dibantuji" - Iki, 21 tahun, tumben bicara lembut.

Saya? Semakin bercucuran air mata, terharu.
Saya punya mereka.

Untuk dua orang yang membuat saya merasa sangat-sangat kehilangan beberapa bulan belakangan, saya kangen sekali. yap. kangen. Disaat kurang tidur, lelah, di buru-buru deadline tapi otak saya ini masih dan masih menyempatkan space buat kalian. Buat mengingat yang sudah di lewati sama-sama, buat bertanya kenapa berakhir seperti ini. Ini artinya apa? Kalian berarti.

Tapi semuanya sudah berubah. Entah siapa yang memulai, tapi sekarang saya mulai menerima kenyataan bahwa dua orang tempatku berpulang jika ada masalah, dua orang pembangkit moodku, mereka sudah memilih jalannya. Dan tidak ada saya disana.

So..
Silahkan lanjutkan jalan kalian, saya juga punya jalan sendiri.
Maaf kemarin-kemarin sering kangen.
Habis ini, saya akan berhenti mengingat. Dan belajar menghapus.

Thursday, April 18, 2013

Nobody's perfect

Ini aku dengan segala kekuranganku.
Aku yg lemah. Aku yg tak berdaya.
Menyakitkan bukan??
Maaf buat semuanya.

Hanya satu yg bisa aku katakan.
Aku merindukan aku yg dulu.
Terima kasih pengertiannya.
Sampai kapanpun aku menyayangi kalian.
Tanpa syarat, tanpa terkecuali.

Sunday, February 24, 2013

Satu Persamaan


Gak perlu banyak persamaan sih buat nyatuin kita, cukup sama-sama ...gila.
 





Saturday, February 23, 2013

No strings attached

Salah satu film Ashton Kutcher yang bikin jatuh cinta gak bangun-bangun..







Pages