There was an error in this gadget

Sunday, September 22, 2013

Semesta Lagi-lagi Menampar Saya

Saya selalu merasa jika ingin segala sesuatu berjalan sesuai yang kita harapkan maka kita harus melakukan hal-hal yang wajib kita lakukan. Bahkan harus berusaha lebih jika ingin mendapatkan yang lebih baik, mencapai titik puas.

Apalagi dunia perkoasan menuntut kami menjadi robot, harus mengikuti aturan dan kompetensi yang sudah di tetapkan. Harus bisa ini, harus bisa itu. Harus revisi referat minggu sekian, baca minggu sekian, diskusi status harus sekian, ujian minggu sekian.

Alhamdulillah selama ini saya lewati dengan baik. Walaupun saya tipikal koas santai, mmh sangat santai bahkan. Beberapa teman juga sering bertanya "Kau tidak GG (gaduh gelisah) di'?". Yah dari luar sih boleh nampak santai woles ,tapi deadline tugas tidak woles dong harus di usahakan sekali tepat. Alahamdulillah! Dan saya selalu senang jika bisa selesai di suatu bagian sesuai deadline, seperti berhasil mencentang daftar list must to do.

Dengan dunia koas yang hectic di tambah sifat saya yang tetap ingin bermain-main di sela kesibukan, saya seperti benar-benar tenggelam dalam urusan duniawi. Work hard, play harder.

Ah, saya mulai melupakan yang di atas. Saya jarang memohon maaf dan meminta bantuan. Kalaupun meminta saya meminta terlalu detail. Saya mencoba mengatur yang diatas, saya lupa bahwa rencananyalah yang terindah.

Maka disinilah saya, ditampar sama Tuhan untuk urusan koas yang benar-benar di luar kuasa saya. Kalo saya punya deadline referat dan sekelompok dengan orang-orang cuek, saya bisa berusaha mengerjakan sendiri. Jika saya mendapat penguji killer maka saya harus menambah kaleng-kaleng kopi nescafe untuk menemani belajar.
Tapi saat saya di hadapkan tidak bisa masuk bagian apa yang bisa saya lakukan?
Yah, yang saya lakukan adalah konsultasi kiri kanan untuk menghadapi masalah ini. 
Saya berusaha mencari orang-orang yang mau melepaskan bagian internanya. Lalu bertemu gubernur, membujuknya, berharap mendapat kebijakan atau kalau perlu belas kasihan kata Rina.
Jika tidak bisa mungkin saya akan ke PD1, lagi dan lagi memohon penyelesaian masalah ini.
See? Semua yang saya lakukan berpusat pada diri orang lain, saya hanya bisa mengandalkan orang lain. Apa yang bisa saya perbuat agar bisa masuk? Ini benar-benar di luar kontrol saya.

DI LUAR KONTROL SAYA.
Salah satu hal yang saya benci, sekaligus yang paling paling paling sering menampar saya. Bahwa tidak semua hal bisa saya kontrol.

Dan hal ini salah satunya.
Saya pada akhirnya di ingatkan lagi lagi dan lagi dengan masalah yang seperti ini bahwa DIA lah yang maha mengontrol. Dan saya manusia hanyalah butiran-butiran debu dari semesta beserta isi-isinya yang dia kontrol ini.

Jika Ia bisa mengotrol alam, matahari tiap paginya terbit di timur dan terbenam di barat, Dia bisa mengontrol bumi tetap pada orbitanya berputar mengelilingi matahari (bayangkan bagaimana bumi sedikit saja melenceng dari orbitanya apa yang akan terjadi), jika Ia bisa mengotrol itu semua, apalah siklus internaku itu.

Dia maha mengatur dan percayalah semua yang Ia atur adalah yang terbaik. 

Yah, sudah kewajiban seorang muslim mempercayai dan meyakini qada dan qadar.

Maka saya harus ikhlas apapun ketetapanNya nanti. Berarti itu yang terbaik. Saya tentu saja masih berharap rencanaku adalah rencanaya juga tapi sambil diiringi doa agar saya ikhlas dengan segala ketetapannya. Amin.

Yah, Tuhan merindukan saya hambanya yang selalu sok kuat tidak menangis agar bersujud dan membasahi sejadahnya.

Tulisan ini di buat saat saya menunggu keputusan Gubernur saya bisa masuk interna. Dan saya berjanji akan mempublish tulisan ini di blog jika saya berhasil melaluinya dengan baik.

Dan keputusan gubernur setelah seminggu adalah saya tetap tidak di terima karena kuota yang terlalu lebih. Awalnya saya hampir hopeless, melihat siklus yang penuh sampai 3 bulan ke depan. Mau apa saya libur 3 bulan. Tapi pada akhirnya saya menemukan jalan, jalan dari Allah memang tidak terkira, ada-ada saja. Intinya berkat bantuan beberapa teman, saya tidak akan jobless 3 bulan, melainkan hanya 3 minggu. Alhamdulillah. Saya tidak suka libur apalagi jobless, tapi saya rasa 3 bulan ke 3 minggu itu sudah sangat bersyukur. Semua pasti ada hikmahnya. Terima kasih banyak ya Allah!

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Jadi nganggur yang tinggal 2 minggu ini asiknya ngapain? ;)

No comments:

Post a Comment

Pages