There was an error in this gadget

Thursday, March 31, 2011

Tempat belajar yang salah, mungkin?

Di dalam mobil.
Ngelihat mereka bertengkar, entah untuk ke berapa kalinya.
Rasanya pengen teriak “Hey! Tidak bisakah kalian lebih dewasa dan tdk bertengkar di depan umum? Atau menghargai saya dan tdk ngebut-ngebutan seenak jidat?”
Tapi ya sudahlah, sebagai orang yg selalu men-cap mereka anak kecil, sy mengalah untuk diam, menonton dan tdk memperkeruh suasana.

Stop membicarakan mereka. Tidak baik membicarakan orang lain.
Hanya saja melihat mereka bertengkar membuat saya teringat dengan dia.

Dia. Orang yang berkomitmen dengan saya selama 3 tahun 3 bulan (minus putus-nyambung).
Wajar sebuah hubungan dibumbui dengan pertengkaran sekali, dua kali, berkali-kali, asal jangan tiap minggu bahkan sampai setiap hari.

Pertengkaran tiap pasangan pun beragam, mulai dari ego masing-masing, perbedaan prinsip, dll atau mungkin mix dari semua penyebab tersebut dan menjadikan pertengkaran semakin rumit.

Dan pertanyaan yg selalu keluar dari mulut saya setiap menemui pertengkaran-pertengkaran seperti itu adalah ”Kenapa kalian sampai sekarang masih bertahan?”
Kebanyakan sih jawabannya klasik, masih sayang. Atau untuk orang-orang yang tipe pemikir biasanya bakal ngejawab “Takut menyesal”.

Awal pacaran, saya sangat gampang ngomong putus. Prinsip saya, untuk apa menjalin komitmen kalo udah tau gak cocok. Sedangkan dia berprinsip, kenapa kita tidak memberi kesempatan untuk hubungan ini, kalo kita masih punya perasaan yg sama. Yah, dia menggunakan perasaan sedangkan sy menggunakan logika. 3 tahun 3 bulan, sy menggunakan perasaan. Perbedaan prinsip kita lalui dengan angkuh, seakan itu bukan hambatan buat kita.

Kenyataanya, logika terus mengingatkan bahwa saya mulai tidak rasional. Perbedaan itu menyakiti kita, tapi kita tetap tertawa asal bersama. Sampai akhirnya di suatu titik saya mulai sadar bahwa saya tidak bisa terus-terusan jahat sama diri saya sendiri, terlebih sama dia. Bahwa kita akan sama-sama sakit kalo ini terus berlanjut. Saya putuskan untuk menggunakan logika. Seberapa sakitnya saya dan dia waktu itu, tidak akan sesakit jika meneruskan komitmen ini. Dan kisah ini pun selesai.

Seperti biasa saya tidak menangis, cuma nggak bisa tidur doank. Hahahaha. Dan baru menangis hari k-3 pasca tutup buku.
Dia? Entahlah… Silahkan bertanya sama dia :)

Saya hanya sering berpikir, seandainya saya dari awal seperti ini. Mengikuti logika. Mungkin ga sesakit kita tutup buku kemarin kan? Tidak akan ada diantara kita yg tersakiti selama 3 tahun 3 bulan. Saling menahan emosi dan ego walau merasa salah dan sakit karena tdk sesuai prinsip dan logika kita masing-masing.

Ingat saya mati-matian nyuruh dia nonton korea, twilight, baca bukunya raditya dika…hahaha. Benar-benar bukan dia. Dan dia lakuin itu. Demi hubungan ini. Saya kayaknya yang paling sedikit berubah, permintaan dia terlalu susah. Menyangkut sifat dasar, misalnya lebih care, feminim, gak boleh terlalu dekat ama cowok lain, dll. Ckckck.

Apa yah?

Kesimpulannya sih hubungan yang salahpun bisa memberi banyak pelajaran. Pelajaran tentang pengertian, perhatian, menahan emosi, menahan sifat protektif, dsb. Tapi sampai kapan kau belajar dalam hubungan yg salah itu? Kenapa tetap disitu jika masih ada banyak 'tempat belajar' yg lebih baik dan nyaman? Perasaan memang penting dalam suatu hubungan, tapi jangan lupakan logikamu. Menurutku jika suatu komitmen lebih sering berujung pertengkaran yang akhirnya menyakiti 2 orang yg berkomitmen itu, untuk apa dilanjutkan?

Dan jika benar kamu menyayangi dia, apakah kamu tega melihat dia tersakiti oleh hubungan kalian? Kalo tidak tega, maka segeralah akhiri demi dia, demi kamu dan demi kalian.
Kalo kamu tega dan tetap bertahan dgn hubungan yang salah itu, coba tanya hati kecilmu, apakah itu rasa sayang atau egomu untuk memiliki dia??

Tulisan ini spesial untuk teman-temanku yang sedang belajar di tempat yg mulai membuat mereka tidak nyaman. Berpikirlah.. Dan bebaskan dirimu sebelum benar-benar terikat dan tercekik.















Free yourself...



NB: Ditulis hampir sebulan yang lalu dan akhirnya di publish setelah berpikir panjang. Semoga tidak menyinggung banyak pihak :p
Published with Blogger-droid v1.6.3

No comments:

Post a Comment

Pages