There was an error in this gadget

Wednesday, May 09, 2012

Muak

Untunglah saya bukan Edward yang bisa mendengar suara dalam hati orang, yang terlontar dari mulut saja sudah terlalu ribut. Semua ingin bicara, semua ingin di dengar.

Saya cukup tau mana yang benar dan mana yang salah. Dan terkadang terlalu banyak bicara justru membuat orang yang benar jadi terlihat salah juga.

Saya hanya menjadi bingung mengambil sikap, dan tidak tahu harus berbicara dengan siapa. Semuanya sibuk, sibuk membicarakan dirinya.

Bahkan mereka yang seharusnya selalu jadi tempat berpulang yang paling nyamanpun, menjadi kurang kenyamanannya. Karena apa yang akan ku keluhkan adalah tentang orang yang dia cintai.

Bagaimana mungkin saya tega menyakiti orang yang saya cintai dengan cara mengeluhkan orang yang dia cintai?

Itu hanya menambah beban pikiran mereka yang sudah berton-ton di banding saya yang satu grampun tidak sampai, rasanya memang layak.

Sebenarnya bercerita untuk sekedar meringankan beban pikiran di saat seperti ini sangat beresiko. Dan beberapa hari kemarin itu terbukti, gadis yang malang. Mencari simpati seperti biasa tapi malah mengundang petaka.
Ingin sekali berteriak di depan mukanya "Lihat apa yang kau perbuat gadis kecil, tidak pernah belajar dari kesalahan. Ikuti saja emosi dan keegoisan terus dan akan semakin melukai orang-orang di sekitarmu dan juga kau sendiri!"
Tentunya saya pada akhirnya tidak pernah mengeluarkan, mmh mungkin belum. Tidak dalam keadaan emosi, tidak dalam keadaan masalah yang sangat kusut melebihi benang.
Tidak akan selabil gadis kecil itu, berkali-kali termakan omongannya sendiri. So stupid.

Lagi pula saya sudah semakin baik dalam berakting begini, berpura-pura segalanya baik-baik saja, berpura-pura bahagia dengan segala pilihan, berpura-pura tidak tau, berpura-pura tidak peduli. Hingga saya sendiri tidak bisa membedakan apakah saya sedang berpura-pura atau saya benar-benar mulai tidak peduli? Muak?

Mencoba mengalihkan pikiran kepada hal-hal menyenangkan, takut ada yang tahu apa yang sebenarnya paling kupikirkan. Tapi entah mengapa yang berkaitan dengan diriku semuanya berjalan buruk? Tak ada satupun hal yang kukerjakan dengan baik. Yang paling gampang sekalipun.

Lalu apa arti hidup jika sudah sepertii ini?

No comments:

Post a Comment

Pages