There was an error in this gadget

Sunday, August 22, 2010

Disadarkan Dengan Janji

Tidak pernah sebelumnya mama dan etta seperti ini. Dari kecil saya di didik bahwa mendapatkan nilai baik di sekolah adalah bentuk pertanggung jawaban kita ke orang tua. Makanya kalo nilai saya tidak sesuai harapan walaupun masih peringkat 1, pasti tetap di nasehatin. Kadang Etta ngediamin saya, gak ngajak ngomong. Bahkan blak-blakan bilang di depan saya ini mengecewakan, malu-maluin.
Dan kalo nilai bagus, saya tidak pernah di belikan apa-apa. Tidak pernah di janjikan kado ato apa. Bentuk penghargaan tertingginya adalah Etta bakal nandatanganin raport saya, karena biasanya kalo gak sesuai harapannya yah mama yg nandatanganin. Cuma itu, gak lebih.

Dan sekarang, untuk pertama kalinya saya di janjikan sesuatu.
Walaupun senang, saya tidak bisa bohong, hati kecil saya yang paling dalam merasa bersalah. Orang tua yang mengajari saya tanggung jawab sejak kecil, sekarang justru mengiming-imingi dengan sesuatu agar saya lebih berusaha mendapat nilai yang bagus? Astagaaaa. Saya bahkan lebih childish di mata orang tua ketimbang waktu masih duduk di bangku SD! Memalukan. Benar-benar anak yang tidak peka akan keinginan orang tua.

Selama ini saya tidak peka. Selalu tertawa memberitahukan kabar nilai saya yang pas-pasan. Selalu merasa tidak bersalah dengan semua itu karena toh mereka yg menginginkan saya disini. Merasa setidaknya saya tetap bertahan di fakultas ini.
Bodoh. Sungguh bodoh. Sangat kekanak-kanakan.
Menyiksa batin orang tua dan diri sendiri.

Saya tidak mau banyak janji. Saya cuma minta doa dari semua agar saya tidak lagi malas, labil dan kekanak-kanakan. Sungguh penyakit yang paling susah di sembuhkan adalah penyakit malas!!

Terakhir, Ma.. Etta.. Maafkan saya! Terimakasih, kalian selalu tau cara menyadarkan saya dengan cara halus :')



Nb : Tadi saya lagi-lagi menuliskan segala macam do'a. Tapi di hapus lagi. Berdo'a lebih baik pas sholat, betul?

No comments:

Post a Comment

Pages